Moodboard dalam Desain: Fungsi dan Cara Membuatnya

Moodboard dalam desain adalah sekumpulan elemen visual yang penting untuk menyampaikan konsep dalam pengerjaan proyek. Antara ide desainer dan kebutuhan klien tentu harus searah, sehingga moodboard penting untuk dibuat dan dirancang sejak awal.

Jika belum paham mengenai moodboard dan hanya mengacu pada ide di kepala, maka harus memahaminya sejak sekarang. Ada banyak aspek penting di dalamnya mulai dari fungsi sampai cara membuat moodboard.

Fungsi Moodboard

Pada dasarnya moodboard dalam desain berfungsi sebagai alat menyamakan ekspektasi visual. Moodboard bisa menjadi jembatan ide dan penerapan antara desainer, tim internal, serta klien sebelum eksekusi berjalan.

Moodboard bukan hanya soal ide dan konsep dasar. Justru moodboard mampu membantu menentukan serta mengunci palet warna, vibe visual, serta gaya kreatif. Saat semua sudah terkunci dalam satu ketentuan, maka pengerjaan lainnya bisa menyesuaikan.

Selain itu, moodboard juga bisa menghemat waktu serta mencegah revisi besar di tengah proses pengerjaan proyek. Desain akhir bisa lebih cepat selesai dan tidak perlu ada kesalahpahaman selama proses.

Cara Membuat Moodboard

Untuk membuat moodboard dalam desain, ada beberapa cara struktural yang penting untuk dikerjakan. Masing-masing tahap saling berkaitan, serta setiap proses punya nilai penting yang sama. Berikut tahapan membuat moodboard:

1. Menentukan Tujuan

Cara membuat moodboard yang paling dasar adalah dengan menentukan tujuan. Prosesnya bisa berawal dari mengidentifikasi masalah, menentukan audiens sasaran, serta pesan apa yang ingin disampaikan.

Setelah tujuan terbangun, maka tentukan kata kunci utamanya seperti modern, minimalis, dan sejenisnya. Penentuan kata kunci ini akan menjadi acuan dasar untuk menambah elemen lain dalam moodboard.

Batasan konsep visual juga harus terbangun sejak awal. Hal ini penting agar proses pencarian materi tetap fokus dan efisien. Jika batasan konsep tidak ada, maka proses membuat moodboard akan terlalu melebar ke bagian yang tidak perlu.

2. Mengumpulkan Referensi dan Tema

Jika sudah menentukan tujuan, maka bisa mengumpulkan referensi dan tema untuk kemudian dipatenkan. Moodboard dalam desain akan berisi banyak hal, sehingga perlu ada tema yang jelas sebagai acuan.

Referensi ini bisa berupa tekstur, gambar, foto, tipografi, sampai elemen inspirasi lainnya. Pengumpulan referensi ini bisa fokus pada berbagai sumber digital. Semakin banyak inspirasi yang sesuai, maka semakin baik pula pengembangan temanya.

Kemudian penting juga untuk menentukan penggabungan sampel warna, gaya ilustrasi, dan aspek pendukung lain dari industri sejenis. Semua referensi ini bisa menjadi dasar penentuan tema untuk panduan tahap lanjutan.

3. Mengkurasi Elemen

Untuk menghasilkan contoh moodboard atau hasil akhir yang sesuai, maka perlu proses mengkurasi elemennya. Berdasarkan referensi yang sudah terhimpun, maka proses menyeleksi sampel terbaik sangat penting untuk menjadi cerminan inti proyek.

Sedangkan referensi yang tidak selaras atau berpotensi membingungkan arah visual wajib dibuang. Langkah ini terlihat mudah, tapi membutuhkan pertimbangan yang matang selama prosesnya.

Lalu dari palet warna serta kombinasi tipografi yang sudah tersimpan, perlu proses kurasi dan pengelompokan yang pas. Kombinasi warna dan tipografi tidak bisa menjadi pengecualian karena termasuk salah satu cerminan proyek.

4. Menyusun Layout

Membuat moodboard dalam desain tentu berkaitan dengan penyusunan layoutnya. Desainer dan tim terkait bisa memilih media untuk penyusunan moodboard seperti Figma, Canva, atau yang lain. Penentuan ini biasanya mengacu pada jenis proyek dan kebiasaan tim dalam penggunaan medianya.

Untuk urutan elemennya sendiri bisa berdasarkan hirarki visual yang paling ditonjolkan. Hal ini juga berlaku untuk ukuran elemen. Semakin penting elemen, maka peletakannya bisa paling awal.

Jangan lupa untuk memanfaatkan ruang kosong antar gambar atau elemen. Ruang kosong atau white space ini penting agar halaman ide terlihat lebih rapi serta tidak berantakan.

5. Menambahkan Catatan

Agar moodboard desain lebih informatif, maka perlu menambahkan catatan di bawah elemen seperti gambar atau lainnya. Komponen warna yang tersebat juga bisa diberi catatan kecil untuk memperjelas alasan pemilihan.

Bagian moodboard yang berupa detail teknis juga perlu perhatian khusus. Mengingat pihak yang akan memahami moodboard ini bukan satu orang, maka catatan kecil penjelasan detail teknik bisa sangat membantu.

Moodboard yang terbangun dengan dasar detail bisa menjadi alat presentasi awal yang profesional dan persuasif. Semakin informatif moodboard, maka semakin mudah dipahami dan lebih menarik.

Penutup

Penggunaan moodboard dalam desain adalah fondasi penting guna pengerjaan proyek yang lebih terarah. Desain yang hanya mengacu pada ide dasar tidak tertulis justru hanya akan menambah kemungkinan kesalahan.