Psikologi Warna dalam Strategi Branding Modern

Pada dasarnya, psikologi memang sangat dekat dengan aktivitas sehari-hari. Hampir semua elemen kehidupan dipengaruhi oleh psikologi, termasuk dalam bisnis. Hal ini karena eksistensi psikologi warna, yang sadar tidak sadar berpengaruh pada strategi branding modern.

Bila melihat di sekitar, Anda pasti sadar jika brand-brand besar punya hubungan yang erat dengan warna tertentu. Misalnya Shopee dan warna oranye, Traveloka dan warna biru, dan lain-lain. Sebelum memilih warna, mereka memerhatikan psikologi di baliknya.

Hubungan Warna dengan Perasaan Tertentu

Khusus untuk Anda yang masih bingung soal apa yang dimaksud dengan psikologi warna dalam desain, istilah ini merujuk pada teori tentang pengaruh warna pada perasaan atau psikologi manusia. Johann Wolfgang von Goethe adalah orang yang memperkenalkannya.

Pada bukunya yang berjudul The Theory of Colours, Goethe memperkenalkan arti warna dan hubungannya dengan perasaaan manusia. Jika Anda ingin tahu lebih banyak soal arti warna-warna menurut psikologi, berikut contohnya untuk warna dasar!

1. Hitam

Kebanyakan orang mengasosiasikan hitam dengan misteri, mengingat tidak adanya cahaya pada warna ini. Beberapa orang juga menganggapnya sebagai warna yang depresif dan penuh kegelapan. Tapi di saat yang sama juga mengeluarkan aura elegan dan formal.

2. Putih

Karena merupakan warna cahaya murni, sering dikaitkan dengan kemurnian dan kesucian. Pada desain, eksistensinya dapat memunculkan kesan ruangan luas dan terbuka. Tapi, jika Anda gunakan secara berlebihan, kesan steril, klasik, dan dingin akan terasa.

3. Merah

Jika ingin menampilkan emosi yang kuat dan sangat bersemangat, merah adalah jawabannya. Hal ini karena warna ini bisa memberikan stimulus paling baik. Pada umumnya, psikologi dari warna merah sering jadi lambang cinta, gairah, bahkan hingga amarah.

4. Biru

Kebalikan dari merah adalah biru, mengingat warna ini bisa melambangkan ketenangan dan kedamaian. Kesannya stabil dan abadi. Hanya saja, jika Anda gunakan secara berlebihan psikologi dari warna biru bisa memicu kesan sedih dan gloomy.

5. Kuning

Lalu ada kuning, warna yang paling dekat dengan warna cahaya. Kebanyakan orang mengimpresentasikan kuning sebagai rasa sukacita dan ceria. Tidak sedikit juga yang menganggapnya sebagai warna intelektual. Namun jika berlebihan, bisa memicu rasa cemas.

Eksistensi Warna dengan Tone Cool dan Warm

Bila mengulik buku The Theory of Colours, Goethe juga memperkenalkan teori tentang tone cool dan warm. Tone cool adalah kumpulan warna-warna yang punya rona dingin, sedangkan tone warm merupakan kumpulan warna-warna dengan rona hangat.

Teori ini sangat berpengaruh pada psikologi warna dalam desain, mengingat ada sensasi atau rangsangan tertentu saat Anda melihat warna-warna tersebut. Rona hangat cenderung intens dan bergairah, sedangkan rona hangat lebih tenang dan damai.

Kenapa Pemilihan Warna Penting dalam Branding?

Ada alasan kenapa pemilihan warna itu penting dalam branding, yaitu karena warna ingin membawa pesan pada para audiens. Warna juga bisa memberikan karakter, menjelaskan bidang bisnis Anda, siapa target pasarnya, dan hal-hal lain yang sejenisnya.

Contohnya jika ingin membuat branding produk mewah, bisa gunakan warna hitam, emas, atau merah. Sementara untuk produk skincare remaja wanita, pink dan kuning bisa jadi pilihan utama. Kombinasi biru dan putih bisa kamu gunakan untuk brand busana muslim.

Penutup

Singkatnya, alasan kenapa psikologi warna itu penting dalam branding adalah karena warna bisa menentukan karakter dan imej brand Anda. Hal ini karena manusia bisa merasakan hal khusus ketika melihat warna tertentu, seperti kata Johann Wolfgang von Goethe.